Home / Uncategorized / Cerita Dewasa Istriku Diperkosa Maling Jahanam

Cerita Dewasa Istriku Diperkosa Maling Jahanam

Cerita Sex Terbaru – kali ini akan memberikan Kisah Seks Bergambar lainnya yang akan membuat sobat semua merasakan fantasi  sex yang lebih lagi. Simak secara lengkap Cerita Bokep XxX berikut ini – Istriku Diperkosa Maling Jahanam.

Pada Tahun 2015 di bulan Januari, tak terasa sudah 3 tahun pernikahanku dengan Rossa, teman satu kampus di Jakarta satu jurusan. Perempuan keturunan Tiong Hoa yang sekarang sudah berusia 31 tahun, lebih muda 3 tahun dari aku sendiri.

istriku-diperkosa-maling-jahanam

Setelah lulus Master dalam bidang manajemen, rutinitas pekerjaan telah menunda akan kehadiran anak. Untung saja hal itu ternyata tidak mengganggu keharmonisan dalam keluargaku. Kita saling mengerti dan memahami akan kesibukan masing masing dan tetap menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan hubungan intim.

Di kota Bandung ini kehidupanku dengan Rossa terbilang sudah mapan. Rumah berlantai dua di perumahan tergolong elit, mobil dua buah yang masing masing digunakan oleh Rossa dan aku sendiri juga tampak menghiasi garasi rumah tersebut.

Baca Juga Pria Penikmat Tubuh Seksi

Pekerjaan dan jabatan yang cukup tinggi antara aku seimbang dengan pekerjaan Rossa sebagai office manager di sebuah perusahaan advertising ternama. Di usianya yang sudah kepala tiga, kecantikan Rossa memang masih sangat terjaga.

Sebagai idola di masa kuliah dulu, Rossa memang terkenal karena kecantikan dan wajah khas nya sebagai keturunan bangsa timur. Kulit putihnya tetap halus dan mulus terawat. Keindahan tubuhnya tetap tidak berubah seperti semasa aku sekuat tenaga mengejar untuk mendapatkan hatinya di masa kuliah.

Akhirnya keharmonisan dan ketenangan dalam rumah tanggaku terdobrak dengan kejadian luar biasa yang menimpaku dan Rossa di awal tahun ini. Sebuah kejadian yang benar benar membuat aku sebagai suami meradang amarah dan dendam serta menjadi sebuah bencana besar bagi Rossa istriku.

Kejadian ini dimulai pada saat aku dan Rossa kembali ke rumah setelah makan malam bersama di suatu akhir pekan yang berhiaskan hujan lebat di Bandung. Pukul sepuluh malam tepat aku memarkirkan BMW 320i hitamku di garasi rumah.

Cuaca yang tidak mendukung membuat aku dan Rossa enggan menghabiskan malam di luar rumah. Lagipula di malam itu Rossa sudah mengisyaratkan keinginan untuk melewatkan malam dengan berduaan saja di rumah.

Setelah keluar dari mobil dan masuk ke dalam ruang tengah, Rossa nampak segera bergegas ke kamar untuk berganti pakaian, sementara aku menghenyakkan tubuhku ke sofa dan menonton acara komedi yang ada tiap hari itu, cukup menghibur juga.

Beberapa menit kemudian nampak Rossa keluar kamar sambil menggelung rambut panjangnya ke atas sambil merapikan dasternya, terlihat kemolekan dan keindahan tubuhnya yang sangat sempurna bagiku saat itu.

“Aku mandi dulu ya mas” bilangnya sambil merapikan daster mandinya yang berwarna ungu itu. Keseksian tingkahnya yang menggemaskan pertanda bahwa malam ini Rossa menginginkan adanya hubungan intim yang istimewa.

Aku mengangguk saja sambil mengawasi Rossa ngeloyor ke kamar mandi tanpa berusaha menutupi bagian depan dasternya yang belum dikancingkan. Beberapa menit kemudian sudah terdengar shower air yang mengisi bathtub di kamar mandi kami.

Akupun beranjak ke kamar untuk sekedar berbaring dan membayangkan kegiatan malam ini. Sambil menunggu di kamar tidur kulewatkan waktu sambil mendengarkan alunan piano Richard Clayderman yang terdengar merdu di dalam kamar.

Tak berapa lama kemudian Rossa dah masuk mengikuti aku ke kamar tidur. Bau wangi harum tubuhnya sangat menggairahkan malam itu. Dia pun lalu merebahkan tubuh moleknya di sampingku, merapatkan ke tubuhku seperti mencari kehangatan.

Akupun memeluk dan mencium kening perempuan yang sangat kucintai ini. Senyumannya yang memabukkan itu segera membuat nafsuku membara. Rossa pun sudah bergairah juga kayaknya, dengan perlahan dia beringsut ke atas tubuhku yang masih memakai piyama lengkap.

Sambil memainkan kancing bajuku dia menundukkan wajahnya, mendesak hidungku dan akupun seketika itu juga merasakan kehangatan dari tubuhnya, payudaranya yang masih terbungkus daster ungunya terasa hangat menghimpit dadaku.

Segera kami larut dalam cumbuan yang begitu mesra saat itu. “Kreek….kreekk…krosak..krosak”, suara yang terdengar cukup keras dari ruang tengah itu langsung membuat kami tersadar dari pemanasan.

“Apa itu mas?”,bisik Rossa sambil turun dari tempat tidur, merapikan bajunya dan menggelung rambutnya.

“Tunggu aja di sini ma”, jawabku sambil ikut turun menengok ruang tengah yg kebetulan masih terang karena lampu besar yang masih menyala itu.

Perlahan aku mengitari ruang tengah, kosong,tv yang masih menyala dengan suara perlahan tak matikan. Menuju ruang tamu yang sudah gelap.

“Ctek..”,saklar lampu kunyalakan, melihat sekeliling,gak ada apa apa. Pada saat berbalik, “DEG…”,pintu samping menuju garasi ternyata terbuka sedikit.

Ternyata lupa tidak dikunci sewaktu aku pulang tadi. Perasaan khawatir mulai menghinggapi diriku, segera ku tutup pintu itu dan sekaligus saya kunci.

Tiba tiba “Pettt…”,lampu tengah mati dengan sendirinya, begitu juga lampu kamar,ruang makan, dapur dan ternyata semua lampu di rumahku mati. “Sialan..siapa ini yang berbuat?” pikirku sambil gelapgapan mencari senter dan korek api.

“Mas….Mas…”terdengar suara Rossa memanggil manggil dari dalam kamar.

“Bentar ma…nyari senter”,jawabku sambil terus mencari posisi lemari cabinet yang ada di dekat pintu samping.

Gludukk…gludukk…krosakk….. Terdengar suara gaduh yang entah dari mana asalnya.

“Maassss…..Maasss….Mmaahhppp…MMhmp…hmmppp..” terdengar kayak suara Rossa. “Maa…kenapa kamu?” teriakku sambil secepat mungkin bergegas kembali ke kamar tidur ku yang gelap.

“Dukkk…Deepp….Buukk..Buukk..” terasa sebuah hantaman keras dan telak menghajar pelipisku,perut dan dengan telaknya menghantam terakhir daguku yang membuat aku langsung terhuyung ke samping.

Terakhir yang kuingat adalah benturan kepalaku dengan kerasnya keramik lantai kamar ku. Seketika mataku berkunang kunang, pedih terasa di pelipis dan tulang igaku terasa sakit sekali. Sebelum aku sempat berbuat banyak, sepasang tangan kekar telah menyaut bahuku, memaksa mendudukkan aku, kemudian tanpa bias berbuat banyak, tangan itu menyeret aku masuk ke dalam kamar.

“Sudah pingsan kayaknya”, kata itu yang pertama kali kudengar berikutnya. Suara berat dari seorang laki laki yang aku tidak tau siapa.

“Ikat dia kuat kuat”,suara lain terdengar gak dekat dari posisiku terduduk dekarang. Dalam hitungan detik saja, terasa kedua tanganku ditelikung ke belakang dan sepasang tangan yang lain dengan sigap mengikat tanganku dengan tali ke sebuah kursi.

Tak sampai satu menit berikutnya aku sudah tidak bias menggerakkan tangan maupun kaki ku lagi karena terikat dengan begitu eratnya di kursi. Sreettt….sreettt…..suara robekan dan berikutnya sebuah lakban hitam begitu kerasnya membungkam mulutku sampai ke pipi ku.

“ctek..”lampu kamar tiba tiba menyala.

“ Aaahhhhhh….Ahhhhhhh..”jeritan Rossa begitu kuat dari samping pojok kamar membuat aku terperanjat sambil menahan pusing dan perih di kepalaku. Dan yang langsung kulihat adalah tiga orang laki laki berperawakan besar dan kekar telah bersama di kamarku sekarang.

Dan Rossa tampak sedang melawan lelaki ketiga yang berusaha meringkusnya,memojokkan ke sudut kamar dan menekap mulutnya. Seorang lagi langsung menghampiri dan ikut membantu meringkus istriku yang masih liar melawan sambil menendang nendang.

Aku tidak bisa berbuat apa apa melihat kejadian itu.

“Diam..!!Diam….!! Mau kubunuh kamu!!”, hardik seorang lelaki sambil menodongkan sebilah pisau ke leher Rossa.

“Toloooongg..!!”teriak Rossa yang akhirnya dihenyakkan dengan paksa tengkurap di lantai. Sebuah sapu tangan tampak disumpalkan ke mulut istriku dan di ikat kan ke belakang kepalanya, sementara kedua tangan dan kakinya tampak sedang di ikat dengan tali berwarna merah,perlawanan nya tampaknya sia sia karena harus berhadapan dengan tiga orang lelaki sekaligus yang terlihat begitu kuat badannya.

Berikutnya yang terlihat adalah diriku yang terikat erat di kursi tak berdaya dan Rossa istriku yang meringkuk di lantai sambil menangis sesenggukan dengan mulut tersumpal, tangan terikat ke belakang dan kedua kaki terikat di betisnya.

Perlahan aku mulai menemukan kesadaran diriku sendiri dan mulai jelas melihat kondisi yang sedang terjadi, jelas mereka bertiga sedang merampok rumah kami dan sekarang sudah berhasil melumpuhkan aku dan istriku.

“Cari barangnya wok..”,perintah seorang dari mereka. Yang dipanggil wok segera mengobrak abrik kamar kami, mencari barang berharga,sementara seorang lagi mengintip keluar kamar dari jendela, mengamati situasi dan pimpinan mereka kayaknya tengah menghunus pisau tepat di samping kepalaku.

“Berharap saja uangnya ketemu dan ini segera berakhir boss”,bilangnya dengan dingin kepadaku.

“Dan tidak ada yang akan terluka”. Wok tampak masih mengobrak abrik lemari,mencari uang yang mereka kira ada di dalam lemari padahal bukan disitu kami menyimpan uang dan barang berharga kami lainnya.

Brankas malah ada di ruang kerjaku di sebelah dapur. Tapi itu tentu saja tidak diketahui oleh mereka.

“Gak ketemu ndan..”, kata Wok “kamu yang bener nyarinya” bentak komandan nya

“Bener gak ada disini ndan”, jawab Wok “Brakkkkk….!!”, tendangan keras ke kursi ku mebuat aku terhuyung “Dimana kamu simpan uang itu..Haa!!”, bentaknya sambil mendekatkan pisaunya ke leherku.

Aku cuma menggeleng saja….sambil melirik istriku yang makin ketakutan dengan ulah mereka.

“Jawab!!!…Bego kamu”. “Plakk…”, tamparan keras mengenai pipiku membuat perih dan mata berkunang kunang, tetapi aku juga tidak memberi jawaban.

“Ndan….ada yang lewat” kata orang yang berjaga di jendela “Siapa Jon..??”, jawab si komandan

“Gak tau….tetangga mungkin balik ke rumah”, balas Jon sambil terus mengintai keluar jendela. “Kamu jangan main main yha sama aku”,desis komandan sambil menempelkan pisaunya lebih ketat ke leherku, membuat darahku berdesir merasakan mata pisau yang dingin menempel di kulit leherku.

“Sekarang kamu kasih tau dimana uang kamu”, kata si komandan. Sementara wok bergerak menghampiri Rossa.

“Mungkin istrinya tahu ndan..” kata Wok Komandan tampak berpikir sejenak, melirik Rossa dan kemudian menatap aku berhgantian.

“Coba tanya istrinya..!!” desis komandan pada akhirnya.

“Sreet…”, Wok tampak menghunus pisaunya dan mendekati Rossa yang meringkuk ketakutan.

“Sebaiknya kita dapat kabar bagus dari nyonya…hehe”,kata si Wok pada Rossa “Kasih tau dimana kamu nyimpan uangmu nyonya cantik’, sambil mengancam wajah Rossa dengan pisau belati mengkilapnya.

“Hmmppff…”, Rossa keliatan tidak mau menjawab dan malah menangis lagi dengan lebih keras.

“Diam kamu..!! Diam…!! Bodoh”, hardik Wok yang tampaknya makin marah melihat istriku menangis dan membuat suara gaduh. Dengan kasarnya istriku dibalikkan dan Wok menghunus pisaunya dekat wajah Rossa.

Dan inilah awal dari malapetaka selanjutnya, karena begitu tubuh Rossa dibalikkan maka bagian dasternya yang tersingkap tampak menampilkan belahan dan bagian atas dari payudaranya yang jelas membuat wok terkesima dengan pemandangan itu.

Jon pun yang bertugas mengintai keluar akhirnya malah memandang dengan takjub pada pemandangan itu, pemandangan dada istriku yang tampak hidup naik turun seiring nafasnya dan mencoba bertahan untuk tidak menangis.

“Weeiiittss….mantab juga neh nyonya”, wok yang sambil menghunus pisau keliatan sekali sangat menikmati pemandangan istriku itu.

“Ndan….ndan…”,panggil wok sambil menatap komandan lalu matanya mengerling ke istriku yang masih menangis itu. Komandan lalu menghampirinya, berjongkok dekat istriku yang ketakutan. Tangan nya tampak mengelus wajah istriku.

“Jangan sampai kami berbuat kasar sama Nyonya, lebih baik nyonya bekerjasama dengan kita yha”, bilang komandan sambil terus mengusap wajah,pipi dan leher istriku. Darahku mulai tersirap dengan apa yang mereka lakukan pada istriku itu.

“Dadanya ndan…..teteknya putih banget ndan”, seloroh wok yang langsung membuat aku berontak keras, menghentakkan kaki kursi tempatku di ikat ini.

“Duukkk….Plakkk”, tendangan dan tamparan keras dilancarkan si Jon yang beranjak dari jendela berjalan ke arahku, membuat iga ku serasa remuk dan hanya bisa tertunduk.

Sementara Jon bergabung dengan dua temannya di pojok yang sedang mengerubuti istriku. “Jangan macam macam kamu!!”, cuma itu yang dia bilang sambil berlalu melewatiku. Sekarang ketiganya tampak mengerubuti istriku, dan aku yakin pasti mereka mempunyai niat buruk pada Rossa.

“MMMhhppppp…..mhhpppp”, suara Rossa yang terbungkam, rupanya dia tidak menangis lagi, tampak dari posisiku dia meronta ronta seakan hendak melawan, ketika komandan berdiri, ternyata terlihat dengan kurangajarnya tangan Wok menelusup ke balik daster Rossa,sementara tangan satunya menahan tubuh Rossa supaya tetap telentang.

Aku marah bukan main tetapi juga tidak bisa berbuat apa apa melihat kejadian itu. Tampak tangan kiri wok meremas remas payudara kanan Rossa,sekarang posisinya malah juga menindih Rossa, kakinya mengunci gerakan pinggul Rossa sehingga tangan nya bebas menggerayangi payudaranya.

“Haluuss dan kenyal banget neh tetek…”, seloroh Wok yang semakin bergairah Remasan itu kadang diselingi dengan memilin milin puting susu Rossa yang memang sudah tidak mengenakan BH dibalik dasternya.

Pilinan itu membuat tubuh Rossa menggerinjal sampe melengkung keatas, membusungkan dadanya berusaha menghindari gerayangan tangan Wok dan meronta kiri kanan, tetapi hal itu percuma saja karena posisi tubuhnya yang ditindih Wok seakan terkunci dan tidak bisa bergerak banyak.

“heee….heeee….mending kamu menikmati saja montok”, sergah Wok seakan mengejek. “Sreett…”, daster yang dipakai Rossa disibak dengan kasar ke kiri, menampakkan payudara kanan nya yang tampak putih membusung,begitu mulusnya payudara istriku terlihat kontras dengan tangan Wok yang hitam itu.

Masih memegangi daster istriku supaya tetap terbuka, Wok tampak terpana melihat pemandangan dibawahnya. Putting susu istriku yang tampak begitu mencuat itu bagaikan sebuah buah anggur ranum diatas buah melon yang begitu bulat.

Putting berwarna kecoklatan itu terlihat bergerak naik turun seiring nafasnya, lingkaran susu di sekitar putingnya seakan membengkak kontras dengan kulit payudaranya yang putih mulus bagai lilin. “Hiii…hiii..hiii…,Mama…mama…aku mimik cucu donk”,seloroh Wok yang dengan kurang ajarnya matanya melotot melihat putting susu Rossa.

Mulutnya mulai mendekat sambil berbentuk monyong monyong ke dada istriku. “cuupp…cuppp…mmuuahhh”,goda Wok dengan kurang ajarnya memonyongkan bibirnya. Istriku langsung berontak lagi dengan keras dan berhasil membuat tubuhnya tengkurap kembali.

“Hadooohh….nih nyonya bandel amat sih”, gerutu Wok karena pegangan nya terlepas. Dengan sekenanya dia berusaha membalikkan tubuh Rossa yang sedang berontak dengan liar. Bagian manapun dari Rossa berusaha dia kunci kembali, tangan nya akhirnya berhasil menekan pinggang dan dada istriku, dengan spontan tangan Wok mengunci bahu istriku dan menelikungnya, lalu dengan sekenanya dia menggelitik ketiak Rossa.

Menggelitik perut dan pinggangnya yang membuat Rossa menggerinjal gerinjal kegelian. “Hayooo….hayooo…rasakan…”,sergah Wok yang masih menggelitiki bagian samping payudaranya sambil menekan tubuhnya ke lantai.

“Breettt…”,Jon tampak sibuk menyimpulkan sebuah tali di ujung ranjang kami.

“Bawa ke atas aja wok daridapa main di lantai”, bilangnya sambil beranjak ke ranjang bawah dan mulai menyimpulkan sebuah tali juga.

Komandan akhirnya menghampiri wok dan lalu mereka berdua membopong tubuh Rossa yang meronta ronta ke atas ranjang. Ikatan tali di pergelangan tangan istriku dilepas mereka tetapi seketika itu juga kedua tangan istriku direntangkan kuat ke samping ujung ranjang oleh Jon dan Wok.

Komandan tampak berusaha mengatasi Rossa yang meronta dengan cara menindih tubuhnya telentang, sementara Wok dan Jon masing masing berusaha mengikat tangan istriku ke ujung ranjang. Dua menit berlalu akhirnya kedua tangan Rossa berhasil di ikat dengan kuatnya ke ujung ranjang dalam posisi terentang.

Komandan lalu menggelosor ke bawah, melepaskan ikatan di kaki Rossa sementara Wok dan Jon bersiap dengan memegangi pergelangan kaki Rossa. Hal yang sama mereka lakukan dan beberapa saat kemudian yang tampak terlihat adalah istriku Rossa yang terbaring telentang dengan posisi seperti huruf X di ranjang, kedua tangan dan kakinya masing masing terikat dengan kuatnya ke sudut sudut ranjang.

Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan buatku tetapi sepertinya itu membuat mereka bertiga sangat kesenangan. Rossa dengan mulut masih tersumpal tampak terengah engah dalam bernafas mengatasi kondisi yang terjadi padanya.

Yang bisa dilakukan hanya menggeleng gelengkan kepala karena kedua tangannya tertarik dengan begitu kuatnya oleh ikatan itu, tak sedikitpun dia bisa menggerakkan ataupun menekuk lengannya, hal ini membuat dadanya selalu tampak membusung dan naik turun seiring nafasnya.

Si komandan rupanya tidak begitu berminat dengan kondisi demikian, karena dia tampak ngeloyor melewatiku dan keluar kamar. Rupanya bagi dia uang dalam jumlah besar adalah yang utama baginya.

Beda dengan Wok dan Jon yang rupanya sudah dikuasai nafsu melihat posisi istriku terlentang tak berdaya. Wok tampak perlahan mendekati bagian bawah ranjang, lalu dengan perlahan pula tubuhnya mulai menindih tubuh Rossa yang tampak meronta dan meregangkan tubuhnya mencoba untuk menghindar.

Tetapi percuma karena posisi kaki Wok sekarang sudah mengunci pinggulnya. Kedua tangannya mulai menggerayangi perut Rossa, bergerak keatas, merasakan dada yang membusung begitu kenyal di genggaman jari jarinya.

Akhirnya kancing daster istriku mulai dibuka satu persatu. Setelah kancing itu terbuka semua, tangan Wok menyibak sisi sisi daster itu ke samping kiri dan kanan. Pemandangan yang nampak berikutnya membuat mereka berdua menelan ludah masing masing.

Tubuh Rossa yang setengah tertindih menampakkan perut yang sedikit gemuk tetapi sangat menggairahkan, pusarnya nampak jelas di tengah tengah kulit perutnya yang sangat mulus itu. Sepasang payudara yang sangat montok tampak tegak menantang untuk segera dimainkan, dengan sepasang putting susu kecoklatan yang mulai keliatan tegak mengacung sangat menggemaskan untuk segera dinikmati.

Leher jenjang nya sangat menggairahkan untuk segera dicium. Sedangkan lengan nya tampak begitu bulat montok terpentang ke sisi kiri kanan ranjang, menampakkan lembah ketiak yang begitu mulus dan membuat dua lelaki itu tidak sabar untuk merasakannya.

Wok tidak berhenti sampe di situ saja, pisaunya langsung menelusup ke lengan baju istriku, dan Breett…..daster itu terlepas sempurna dari tubuh Rossa. Dengan sekali sentakan daster itu direnggutkan dari bawah punggung Rossa dan dicampakkan ke lantai.

Tinggal lah Rossa memakai CD berwarna biru muda yang menutupi bagian bawah tubuhnya. Jon yang berada di sisi atas ranjang dekat kedua tangan istriku terikat lalu nampak melonggarkan sumpalan di mulut istriku.

Sebelum kain itu dilepas, wok sempat mengancam dengan pisaunya supaya istriku tetap diam dan tidak bergerak. Setelah kain sumpal mulut itu dilepaskan, Rossa Cuma bisa menatap ngeri pada kedua orang itu, yang sudah jelas akan bertindak tidak menyenangkan pada dirinya.

Wok lalu beringsut ke pinggir tubuh istriku, melepaskan gelungan rambut Rossa sehingga rambutnya tergerai lepas semakin menambah kecantikan dari istriku itu. Tangan nya mulai dengan meraba raba perut Rossa yang datar itu, mengelus elus pinggang dan pusarnya, membuat Rossa hanya bisa memalingkan wajahnya tak kuasa untuk melawan.

Gerayangan tangan wok terus menuju kearah payudaranya, merasakan begitu padat dan kenyalnya payudara Rossa. Rossa yang diperlakukan seperti itu akhirnya hanya bisa menahan tangisnya, semakin lama usapan tangan wok di sekitar payudaranya akhirnya membuat tangisnya pecah kembali.

“Sssttt….diam kamu…diam kamu..!!”, hardik wok sambil mencekik leher Rossa. Membuat Rossa terhenyak terdiam ketakutan setengah mati. Wok melepaskan cekikan tangan nya pada leher Rossa dan tangannya kembali menelusur ke bawah melewati leher bahu dan mengusap ketiaknya.

Seketika Rossa menggerinjal kegelian, karena aku tau di bagian itulah salah satu titik tubuhnya yang paling sensitive. Wok juga tampak menyadari hal itu, dia tampak terpana dengan reaksi kegelian Rossa, dia nampak berpikir sesuatu dan lalu menindih kembali tubuh Rossa pada bagian perutnya.

Sebelum bertindak lebih lanjut dia nampak menyuruh Jon melakukan sesuatu untuknya, tak jelas apa yang diminta karena Jon nampak melangkah keluar sambil terkekeh kekeh.

“Sekarang saatnya kembali ke urusan kita ya sayang”,seloroh Wok sambil memeluk erat tubuh istriku.

“Kamu katakan dimana kamu menyimpan uang maka ini gak bakal lama akan selesai”,sambungnya. Istriku cuma terdiam saja melihat wajah lelaki itu. Jari tangan kiri wok lalu dengan perlahan mengusap payudara kanan Rossa.

Menikmati kelembutan nya, perlahan mengarah ke ujungnya dan akhirnya jari telunjuknya mulai memainkan putting susu Rossa, mengusap tepat ujung putingnya, memutar mutar jarinya, membuat putting susu itu melenting kesana kemari karena sudah mulai mengeras.

Rossa cuma bisa menutup mata sambil memalingkan wajahnya,mulutnya terkatup rapat menahan kelakuan Wok itu, tentunya dia merasa kegelian dengan permainan jari lelaki itu. Beberapa saat kemudian Rossa hanya bisa sesenggukan dan akhirnya menangis lagi.

Air matanya tampak deras mengalir.

“Nangis lagi….nangis lagi”, gertak Wok dengan geram.

“Ayo sekarang coba kalo bisa nangis lagi…Haaa”.

Wok tampak dengan cepat memberosotkan tubuhnya, dengan cepat kedua kakinya mengunci gerakan pinggul Rossa, wajahnya menunduk didekatkan dada Rossa, sementara kedua tangannya tampak mengusap pinggang Rossa, bergerak keatas, kesamping payudara dan akhirnya dengan gemas jari jarinya seakan meraup ketiak Rossa.

“Kitik kitik kitik kitik……kitik kitik kitik kitik…ayo nangis lagi sekarang…hayooo…kitik kitik kitik kitik…ayooo nangis lagi…..kitik kitik kitik….hehehe”.

Wok dengan kurang ajarnya menggelitik ketiak Rossa yang terpentang lebar itu. Rossa awalnya masih menangis tetapi sedetik kemudian seakan tersengat listrik akibat gelitikin Wok itu.

Tubuhnya spontan berontak dengan kuat, tangan nya tampak berusaha keras dengan liar untuk lepas dari ikatan itu. Tetapi percuma karena ikatan itu begitu kuatnya.

Usahanya hanya untuk menekuk lengan nya saja tidak bisa, sehingga ketiaknya tetap saja terpentang dengan lebar, membuat leluasa Wok yang terus menggelitik bawah lengannya.

“Hayoo…mau nangis lagi….kitik kitik kitik kitik……sllruupp…cup..cupp..muuaahhh”.

Tampak wok sambil terus menggelitik mulutnya sempat mengecup putting susunya, menyedotnya,dan memainkan lidah kasarnya di puncak putting susunya. Rossa menjadi histeris, tangisnya ternyata tidak mampu menahan ketawa akibat rasa gelinya itu.

Sambil menahan tangis,Rossa gak bisa menahan ketawanya juga.

“Jangaaannnnn…..hoohh….hoohh…hehehehehe……eemmhhhh… .hehehehe…..Geliiiiii…..iiihhhhh……hehehehehe……”,c uma itu yang terdengar dari mulut Rossa. Wok dengan terampilnya tetap memainkan jari jarinya itu, seakan menari nari di lembah ketiak istriku yang harum itu, terkadang tangannya berpindah ke samping payudara Rossa.

Bergerak ke bawah lagi,jarinya tetap menari di pinggang Rossa, membuatnya berkelojotan bak cacing kepanasan, kegelian tak tertahankan, tetapi juga tidak berdaya apa apa karena pinggulnya yang juga seperti didekap dan dipeluk oleh kedua kaki Wok.

“Katanya mo nangis…ayoo nangis terus….kitik kitik kitik kitik kitik ….. hahahahaha….asyik kan…hayoo…mau apa kamu…kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik”, seloroh Wok menggoda Rossa sambil tak henti hentinya menggelitiki tubuhnya.

Darahku sudah naik keatas kepala rasanya melihat kejadian itu. Aku juga berusaha berontak tetapi ikatan di kursi ini membuatku tak bisa bergerak sama sekali, ditambah rasa pusing akibat kebentur di lantai masih membekas terasa sekali di kepala.

“Muuacchhh..muaacchhh…kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik”,cuma itu yang terus kudengar dari Wok, sementara Rossa masih meronta ronta liar kegelian sambil meracau tak karuan. Hampir lima menit itu dilakukan Wok kepada Rossa, hingga akhirnya berhenti.

“hehehehe…asyik kan”, kata wok melepaskan tangannya dari ketiak Rossa sambil bangun tetapi masih dalam posisi menduduki perut Rossa.

“Pake ini Wok”, seru Jon yang tiba tiba sudah berada di bagian bawah ranjang. Dan kulihat dia melemparkan pena yang kutahu ada di meja kerjaku.

Pena dengan tinta cair. Terbuat dari perak dan ujungnya tersimpul helaian bulu burung Elang. Aku tersirap lagi melihatnya….aku tau yang mau dilakukan mereka. Nafasku semakin memburu melihat gelagat itu.

Wok nampak dengan gembira memungut pena itu, hanya saja bukan ujungnya yang akan dia gunakan melainkan bulu elang yang ada di pangkalnya. Dengan nakal dia memperlihatkan bulu elang itu pada Rossa, sambil digerak gerakkan.

Rossa nampak melotot matanya membayangkan apa yang akan terjadi. Tangan wok lalu meraup payudara kanan Rossa, siku kanan nya yang memegang bulu menekuk menahan dada Rossa. Pegangan Wok mengerucut pada bagian atas payudara Rossa, membuat bagian atas payudara itu mencuatkan putingnya yang sudah tegak.

Wok tampak menjilat beberapa kali ujung bulu elang itu, membuatnya tampak runcing, lalu dengan perlahan sekali menundukkan kepala sambil mendekatkan ujung bulu elang itu ke ujung putting susu Rossa.

“Siap..satu…hehehe..dua…”,Wok benar benar menggoda Rossa sebelum mengerjainya. Membuat Rossa langsung memalingkan kepalanya jauh ke samping.

Dan…ujung bulu elang itu dengan perlahan mulai bersentuhan dengan ujung putting susunya, mengusap usapnya dengan gerakan halus dan lembut. Membuat Rossa bagai tersengat listrik lagi, tubuhnya mengejat seiring usapan bulu itu pada putingnya.

Dengan terampil Wok menggerakkan pena bulu itu, sengaja membiarkan ujung bulunya tidak menyentuh lingkaran susunya tetapi hanya mengusap tepat di ujung putingnya saja, membuat Rossa menjerit tertahan histeris.

Gelitikin yang terasa pada ujung putingnya seakan akan terdapat aliran listrik yang menyengat simpul simpul syarafnya. Tangan nya mengepal berusaha berontak kembali, lengan nya nampak menegang kuat, bibirnya terkatup rapat dan matanya terpejam.

Wok tampak sangat menikmati sekali permainan itu, sambil terus mengusap usapkan bulu itu ke putting susu istriku, sesekali dia melirik reaksi wajah Rossa dan terkekeh kesenangan.

“Hiii..hi…ayoo..aku mau bikin penthil kamu sekeras mungkin sayang…..hehehehe”,seloroh Wok.

Dan perubahan itupun jelas terjadi, setelah beberapa menit berlalu, aku tidak pernah melihat putting susu istriku mencuat setegak itu, lingkaran susunya tampak membengkak merah, bintik bintiknya terlihat jelas dan putingnya mencuat merah hampir setinggi ujung jari kelingking.

Kelihatan keras sekali karena usapan dari bulu itu tidak membuat putting itu bergerak sama sekali, pertanda bahwa putting itu sangat kaku.

Wok tampak puas melihat hasil kerjanya, setelah meletakkan pena bulu itu di samping tubuh istriku, tubuhnya kembali mendekap Rossa, tangan kanannya bergerak meraup payudara kiri Rossa dan meremas remasnya dengan kuat.

“Tetek kok montok banget gini sih…heheh”, kelakar Wok yang semakin membuat aku panas melihatnya. Tanpa diduga mulutnya dengan cepat mencucup putting kanan yang tadi sudah keliatan menegang sekali itu,menghisapnya dengan kuat, sampe seluruh lingkaran susu yang memerah itu tenggelam dalam mulut Wok.

“shlrruupppp……shlruupp..” suara yang ditimbulkan karena sedotan mulutnya terdengar keras, kecipak lidahnya juga tampak saat melumat putting susu Rossa, membuat Rossa terlonjak hingga melengkung tubuhnya ke atas tak tahan dengan perlakuan Wok, tubuhnya merenggut kesana kemari tetapi tak kuasa melepaskan pagutan wok dari payudaranya.

Puas melumat putting susu istriku, Wok melepaskan pagutannya. Dia beringsut turun sambil tangannya masih meremas dan menggerayangi sekujur tubuh Rossa.

“Nikmat bener teteknya tuh Jon”,seloroh Wok pada temannya.

Jon tampak biasa aja melihatnya. Wok mengerling kepadaku. “Kamu suka kan ngeliat istrimu kayak gitu tadi…hehehehe”,lontar wok padaku.

Aku cuma memandang wok dengan penuh dendam saat itu. Wok tak perduli dengan pandanganku, dia tampak masih terpikat dan bernafsu mengerjai istriku yang nampak masih terngah engah nafasnya.

Dia lalu mengambil posisi di samping tubuh Rossa,mengerling nakal pada istriku yang sudah mulai kelelahan itu.

“Penthil mu emang bikin nafsu banget sayang”,seloroh Wok sambil semakin mendekat ke Rossa. Dua jari telunjuknya digerak gerakkan nakal depan wajah istriku.

Dan seketika itu juga dua jari telunjuknya dimainkan di kedua putting susu Rossa secara bersamaan. Telunjuknya bergetar cepat,menggelitik putting susu yang masih menegang itu. Rossa sampai terhentak nafasnya, matanya terpejam dan terdongak keatas.

Sentilan cepat dari telunjuk wok membuat putting susu istriku melenting kian kemari dimainkan olehnya. Lalu wok mendekatkan wajahnya ke ketiak Rossa, mengendus endus keharuman tubuhnya sambil masih terus memainkan putting susu itu tanpa henti.

“Ketiak yang harum….enaknya emang buat dikitikin neh”,kata wok nakal pada istriku. Mendengarnya istriku cuma bisa menggeleng gelengkan kepalanya,dia sudah kelelahan akibat terkuras tenaganya sewaktu berontak tadi.

Tetapi kayaknya wok masih belum puas mengerjai istriku lagi. Cukup lama dia memainkan putting susu istriku seperti itu, akhirnya dia beringsut agak ke bawah dengan posisi masih di samping Rossa,tanpa diduga kedua tangan nya kembali meraup ketiak Rossa secara bersamaan.

Memainkan jari jarinya tetapi dengan lebih brutal,jari jarinya bergerak cepat sekali menggelitik kedua ketiak Rossa tepat di tengah nya, membuat Rossa malah seakan terbungkam,tak kuasa mengelak,tubuhnya hanya menggeliat geliat kegelian yang makin membuat wok bernafsu menggelitikinya.

Rossa hanya bisa berusaha menjauhkan ketiaknya dari jangkauan tangan wok, memiringkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, berusaha keras mengatupkan lengannya, tetapi hal yang sia sia saja, kedua lengannya tetap terentang dengan kuatnya ke samping, membuka ketiaknya lebar lebar, memberi kebebasan pada lelaki itu untuk memainkan jari jarinya disana.

Dan seloroh godaan yang membuat aku makin muak itu terdengar lagi.

“kitik kitik kitik kitik…..kitik kitik kitik kitik ……kitik kitik kitik kitik…”. Kali ini tanpa henti dia menggelitiki istriku. Hampir 10 menit itu berlalu, dan aku tidak bisa lagi membedakan suara Rossa antara tertawa dan menangis, yang ada hanya rontaan tubuhnya yang makin lama makin lemah seiring dengan terkurasnya tenaga dia.

Tubuh istriku tampak sudah mengkilap bermandi keringat, rambutnya nampek lengket lengket di kening dan lehernya. Akupun sudah tertunduk lesu pasrah dengan yang sudah terjadi. Pada saat itu akhirnya wok menghentikan gelitikannya.

Dengan menyedot keras putting susu istriku, dia lalu bangun dan beringsut ke dekat jendela,tampak puas dengan permainannya tadi. Aku menoleh dan baru sadar kalo si pimpinan ternyata bersandar di pintu kamar tersenyum melihat tingkah laku anak buahnya.

Si komandan lalu tampak mendekat ke anak buahnya, berbicara sesuatu yang aku tidak bisa mendengarnya. Lalu wok keluar dari kamar entah menuju kemana. Jon tampak mendekati istriku dengan perlahan, ternyata dia kembali menyumpal mulut Rossa dengan sapu tangan dan mengikatnya hingga ke belakang kepala Rossa.

Istriku nampak melotot saja sambil terus mengawasi pergerakan kedua lelaki itu. Setelah Jon mengikat sapu tangan itu ke mulut Rossa, tangannya mulai menggerayang ke tubuh istriku, pandangan nya nampak terpaku pada payudara istriku yang masih nampak bercak bercak kemerahan bekas dimainkan si Wok tadi.

Sesekali dia meremas lembut payudara itu, memainkan putingnya dan mengecupnya beberapa kali. Rossa masih terdiam saja dengan perlakuan itu. Tangan Jon kemudian bergerak ke bawah, menelusup ke CD istriku.

Rossa nampak berusaha menggerakkan pinggulnya dengan maksud menghindari tangannya, namun tangan Jon telah menelusup ke dalam CD nya dan dengan sekali sentak memelorotkan kain biru segitiga itu dengan mudahnya ke bawah, menariknya kasar hingga robek dari selangkangan istriku.

Rossa nampak menjerit tertahan, aku dengan jelas melihat kemaluan istriku sendiri. Rambutnya yang nampak cukup lebat namun rapi dan gundukan kemaluan yang nampak sangat menggairahkan. Jon lalu mengusap ngusap permukaan vagina Rossa yang mulai mengerang tidak jelas karena tersumpal mulutnya.

Jari Jon nampak sesekali hendak dimasukkan ke dalam tetapi tidak jadi, kembali mengusap ngusap bagian permukaannya saja, sementara tangan kanannya masih asyik meremas remas payudara Rossa. Dan saat itu juga nampak Wok kembali masuk kamar, melangkah dengan cepat dan membawa sesuatu yang membikin aku tambah lemas, sebuah kemoceng.

Tanpa menunggu lama Wok mendekati ranjang, sambil duduk di pinggiran ranjang, dia langsung mengusapkan kemoceng bulu itu ke dada Rossa yang seketika itu juga tersentak kaget. Aku sudah panas kembali melihatnya.

Kelakuan Wok ini memang benar benar keterlaluan, karena dia sengaja ingin mempermainkan istriku, mengerjai istriku dengan memanfaatkan tubuh istriku yang memang tidak tahan geli itu. Kemoceng itu diusapkan dengan gerakan cepat, mengusap permukaan kedua payudara Rossa.

Menggelitik putting susunya , kemudian mengarah ke samping payudara nya, mengarah ke ketiak Rossa, memutar mutar kepala kemoceng itu di ketiak Rossa, kemudian turun ke pinggang, perut dan pusarnya juga tak luput dari gelitikan kemoceng itu.

Benar benar membuat Rossa seakan mati kutu, kali ini tertawanya tampak lepas cuma tertahan oleh sumpalan di mulutnya. Yang terdengar olehku hanyalah ketawa dan jeritan histerisnya. Mata Rossa nampak terbeliak ke atas, yang bisa dilakukan hanyalah meronta, tertawa dan tertawa kegelian.

Aku juga tahu bahwa Rossa merasa sudah tidak punya harapan untuk bisa lepas lagi, yang dia inginkan hanyalah orang itu menghentikan gelitikannya saja. Beberapa saat kemudian nampak Rossa menjerit keras, kedua kakinya menendang nendang sekenanya.

Baru aku sadar bahwa komandan itu rupanya tengah menggelitiki telapak kakinya. Tanpa kesulitan dia melakukan itu karena kedua pergelangan kaki Rossa terikat erat ke besi ranjang, apapun yang dilakukan Rossa tidak bisa menghindarkan telapak kakinya dari sentuhan jari jari komandan itu.

Dan seketika itu juga tampak Wok melepaskan kemocengnya tetapi berganti menangkap pinggul Rossa, kemudian nampak dia membuka lebar paha Rossa dan duduk di tengahnya, kedua kaki Wok diletakkan di bawah paha Rossa sehingga pinggul Rossa terganjal oleh paha Wok.

Dengan tak diduga wok kembali memungut pena bulu elang itu. Tangan kirinya nampak menguak vagina Rossa, melebarkan celah kemaluan itu dan tangan kanan nya nampak mulai mengusapkan bulu itu ke celah vagina istriku….memutar mutarnya, dan sesekali mengusap selangkangan Rossa.

Jon yang masih berada di pinggir ranjang memanfaat kan kesempatan itu untuk memagut payudara Rossa, menghisap hisap putingnya, memainkan lidahnya di putting susu Rossa sambil memeluk erat istriku, lalu tangan nya tampak gemas meraih ketiak Rossa dan menggelitiknya bersamaan dengan menghisap putingnya.

Kini yang kulihat berubah menjadi mengerikan, pemandangan di depanku berubah menjadi suatu siksaan bagi Rossa. Telapak kakinya nampak mengejang digelitiki komandan, pinggulnya berontak berusaha menghindari sapuan bulu di vaginanya, putting susunya dihisap dengan kuat oleh mulut Jon, sementara ketiaknya menjadi mainan bagi jari jari Jon.

Rossa hanya bisa menggeleng gelengkan kepala dengan meracau yang tidak jelas. Sementara yang terdengar hanya suara suara godaan dan seloroh nakal dari para lelaki itu, suara suara godaan kitikan dari mulut mereka, suara kecupan dan sedotan di payudara istriku.

Aku sudah tak tahan lagi…. Dengan sekuat tenaga aku memberontak dan membuat kursiku terguling. Mereka spontan berhenti semua.

“Mau apa kamu heee!!”, bentak mereka Sambil meludah ludah menahan emosi dan pedih di kepala, aku berusaha bicara.

“Brankas ada di ruang sebelah….kuncinya 3366”, kataku sambil terengah engah. “Tapi demi Tuhan lepaskan istriku…!!!”, teriakku

“Hehehehe…..akhirnya menyerah juga”, tawa mereka. Akhirnya komandan itu berlalu ke sebelah. Nampak Jon bangkit dan mengemasi beberapa barang berharga yang ada di kamar ku. HP dan sedikit uang cash yang ada di lemari tampak dia masukkan kedalam tas nya.

Cuma Wok yang nampaknya belum mau mengakhiri permainan nya dengan istriku. Dengan cepat nampak dia malah melepas celananya sendiri dan telanjang, membuka kacamata hitamnya dan topinya.

“Mau apa kamu….kurang ajar..!!!”, bentak ku yang sudah tau gelagatnya bahwa dia mau memperkosa Rossa sekarang.

“Apa pedulimu?? Mau gua entot istrimu…..emang kenapa??!!” sergahnya tidak kalah kasar.

Jon malah mendekatiku dan menyumpal mulutku kembali, tapi dia juga menggulingkan kursiku ke belakang, membuat aku tertekuk ke dinding, sakitnya di punggung bukan main. Tetapi aku masih melihat dengan jelas Wok yang nampak mendekati Rossa.

Istriku mulai menjerit jerit tetapi tak berdaya ketika Wok dengan bebas dan kuatnya mengangkangkan paha istriku.

Pedih sekali melihatnya… Hancur aku melihatnya Dan aku hanya bisa menangis Berikutnya aku cuma bisa sekelebat melihat jeritan Rossa dan Wok yang nampak dengan gerakan memompa dan mengayun pinggulnya, tanda bahwa penisnya sudah masuk ke kemaluan istriku.

Gerakan itu makin lama makin cepat. Dan Wok nampak sangat menikmati jepitan vagina Rossa. Mulutnya sampe mendesis desis kenikmatan. Sementara ranjang sampe dibuat berderak oleh saking kuatnya gerakan memompa Wok di vagina istriku.

Aku perhatikan Wok dengan seksama……tiba tiba berbagai macam kelebatan bayangan berkecamuk di pikiranku. Iya betul…..kayaknya aku mengenal orang itu, orang yang selama ini aku tau pernah menjadi tukang parkir di kantorku.

Iya betul….tidak salah lagi. Orang yang kadang membukakan pintu mobilku, mengarahkan parkir mobilku dan membukakan pintu buat istriku apabila sedang mampir ke kantorku. Tidak salah lagi….orang itu yang punya warung di dekat jalan kantorku.

Pikiranku langsung hilang seiring dengan teriakan Wok yang cukup keras

“Hoohhh…hoohhh…hoohhh..ampuuun..enaknya sayang…..OOOhhhh”,dan dengan mengejan nampak Wok memuncratkan spermanya ke dalam vagina istriku. Dan Rossa nampak langsung terkulai dengan lemasnya.

“Ayoooo…keluar sekarang”, teriakan komandan yang sudah memanggul karung yang jelas berisi uang dari brankas. “terima kasih yha….”, bilang komandan pada aku Dan komandan nampak menghampiri Rossa, dengan sekali sentak saja dengan pisau, diputusnya kedua ikatan di tangan Rossa.

Wok nampak memakai celananya kembali dan ngeloyor keluar sambil sempat mengerling dengan bengis kepadaku yang aku balas dengan mata melotot juga walau masih dalam posisi tertekuk dan terikat di kursi.

Mereka pergi…iya betul…mereka benar benar pergi. Aku coba memanggil manggil Rossa yang masih lemas sekali kelihatannya. Baru sekitar 10 menit dia tampak bergerak, dengan lesu dan terdiam dia melepas ikatan kakinya.

Sambil menangis lalu menghampiri aku, melepaskan ikatanku dengan kondisinya yang masih telanjang itu, setelah lepas aku langsung memeluknya erat. Menciuminya dan mengelus rambutnya, mencoba menenangkan dirinya.

Kejadian itu sudah berlalu dan jadi momok bagi kami. Istriku masih shock berat. Sementara aku juga masih teringat jelas kejadian itu, teringat dengan Wok..orang yang paling kubenci dan aku mendendam sekali sama dia.

Laporan ke Polisi sama sekali kuacuhkan, aku malah mengumpulkan para anak buah kepercayaanku, tanpa bercerita aku minta mereka mencari keberadaan Wok. Setelah beberapa hari kabar baik kuterima dari anak buahku.

Keberadaan Wok ditemukan. Kusuruh mereka menguntit dan mengambil foto dari tempat tinggalnya. Setelah aku dapat beberapa gambarnya, aku yakin dengan 100% bahwa itu memang si bandot kurang ajar yang memainkan istriku. Beberapa foto keluarganya juga kudapatkan dari anak buahku, dan foto yang membuat aku mempunyai beberapa rencana adalah….foto istrinya.

Cerita Memek Perawan, Cerita Sex Tante Penuh Gairah, Cerita Sex Remaja, Cerita Sex Abg, Cerita Bergambar Paling Panas, Cerita Dewasa Terlengkap.